Rabu, 06 Juni 2012

Generasi Muda Buta Sejarah Aceh Kata Mahasiswa Universitas Jabal Ghafur Sigli

Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himmaseja) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur-Sigli mengelar seminar sejarah Aceh, Sabtu (02/06/12) di kampus setempat.

Yusrizal Ketua Umum Himmaseja kepada the atjehpost mengatakan bahwa seminar sejarah Aceh bertujuan agar mahasiswa Jabal Ghafur mendapat penalaran sejarah Aceh, baik dulu dan sejarah yang sedang berlangsung sekarang. Saat ini, mahasiswa menyadari pengetahuan dan minat tentang kesejarahan Aceh memudar. Generasi Muda Aceh semakin buta akan sejarah dan peradabannya kata Yusrizal.

Seminar bertemakan “Sejarah Aceh dan Subtansi dalam Pemerintah sekarang”, menghadirkan narasumber Tgk. Yahya Muaz Sekretaris Jenderal Partai Aceh, Taufik Abdullah, MA Dosen Ilmu Politik FISIP Unimal dan Zulkifli AG Dosen Universitas Jabal Ghafur.

Dalam pemaparannya Taufik Abdullah mengatakan bahwa kita dan generasi muda sekarang miskin sekali pemahaman sejarah. Memahami proses sejarah dan periodisasi sejarah sesuai konteks dan perkembangannya cukup penting. Dengan demikian generasi muda mendapat pemahaman sejarah tempo dulu, memahami kedudukan sejarah kekinian dan ke depan mampu menterjemahkan kepentingan peradabannya dengan baik.

Tanpa memahami sejarah kata taufik maka generasi muda khususnya mahasiswa kurang mampu berbenah dan membangun peradaban Aceh lebih kuat dan bermartabat. Pemahaman sejarah masa lalu dan konteks kekiniaan pasca perdamaian perlu ditulis apa adanya dan dikonstruksikan dengan tepat agar perdamaian dan pembangunan lebih maju dari sekarang. Pemerintah Aceh sekarang benar-benar dapat mengendalikan subtansi perdamaian dengan baik, tulus dan bersungguh-sungguh.

Sementara Tgk. Yahya Muaz menjelaskan kronologis sejarah Aceh tentang bagaimana masyarakat Aceh dulu dan bagaimana masyarakat Aceh sekarang? Peradaban Aceh dulu kuat dan disegani karena tatakelola pemerintahan dilandasi pada kekuatan hukum. Supremasi hukum di Aceh lebih tua dari Kerajaan Inggris. Kegemilangan Aceh juga ditopang oleh tatalaksana pelabuhan dan pelayaran, sehingga menguasai perdagangan serta mampu menjalin hubungan diplomatik yang harmonis dengan kerajaan dunia.

Pada era kolonialisme, Aceh tampil sebagai kekuatan utama di nusantara. Biarpun Aceh dihadapkan perang panjang namun tetap tangguh menjelang berakhirnya kolonialisme. Sejarah panjang Aceh semakin mengkristal ketika pada tahun 1945 s.d 1950 tampil sebagai penentu lahirnya negara baru bernama Indonesia. Siaran radio rimba raya, blokade medan area pada agresi pertama dan kedua dimana masyarakat Aceh menjadi kekuatan bagi kemerdekaan Indonesia. Tidak cukup waktu dan panjang untuk menjelaskan peran Aceh untuk kemerdekaan Indonesia. Karena itu Aceh menjadi daerah khusus dalam NKRI.  Sejarah dan peradaban Aceh yang panjang dan menjadi wilayah khsusus tak terbantahkan dalam perang kemerdekaan Indonesia kata Tgk. Yahya Muat.

Sekretaris jenderal Partai Aceh ini juga memaparkan sebab-sebab pergolakan politik keacehan dalam keindonesiaan. Perjuangan DI/TII, lahirnya Ikrar Lamteh, perjuangan GAM dan gerakan referendum. Seterusnya, Tgk Yahya menjelaskan subtansi pemerintahan Aceh pasca MoU Helsinki dan upaya-upaya implementasi UUPA dijelaskan cukup menarik melalui infokus (layar tembak).

Pada sesi tanya jawab mahasiswa cukup antusias bertanya dan menyampaikan pendapatnya. Diantaranya Zulkifli salah satu peserta seminar dengan emosional mengatakan Aceh adalah “kepala Indonesia”.  Aceh akan tetap menjadi modal bagi keutuhan Indonesia jika Aceh benar-benar terlaksananya “self goverment”. Cukup mendesak katanya pemerintah Aceh perlu menyelesaikan berbagai qanun-qanun kewenangan dan kekhususan Aceh. Identitas Aceh seperti bendera, lambang dan himne agar segera diselesaikan sebagai bukti Aceh memiliki kekhususan dalam NKRI kata zulkifli.

Peserta lainnya Akbar mengatakan Aceh akan dihadapkan pada krisis identitas jika tidak berpegang teguh pada komitmen perdamaian. Agar tidak mengalami krisis identitas maka rakyat Aceh mesti belajar pada akar sejarahnya. Sejarah Aceh tempo dulu dan sejarah Aceh untuk kemerdekaan Indonesia bukanlah dogeng. Ini perlu dipahami dengan benar oleh pemerintah sekarang baik di Aceh maupun di Jakarta agar konflik tidak berulang kembali.

Sementara Zulkifli AG Dosen Unigha mengarisbawahi isu-isu yang berkembang dalam seminar ini. Pertama, agar Aceh tidak mengalami krisis identitas maka kebutuhan terhadap lembaga penelitian sejarah Aceh cukup penting. Kedua, sejarah panjang Aceh sampai perang kemerdekaan Indonesia, termasuk bagaimana perdamaian dicapai saat ini  perlu dipahami generasi muda Aceh agar mereka siap membangun lebih baik. Ketiga, untuk tujuan ini perlu adanya kurikulum sejarah Aceh diajarkan pada sekolah-sekolah dasar sampai menengah. Mata pelajaran sejarah yang diajarkan selama ini sepertinya terputus padahal Aceh menjadi kekuatan utama kemerdekaan Indonesia. 

Sumber : 
Panitia Seminar Sejarah Aceh, Himmaseja FKIP Unigha, 05 Juni 2012 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar