Sabtu, 31 Desember 2011

Gubernur: Tak Ada Lagi Penebangan Besar-besaran

Lhokseumawe (27/04/2010) - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengakui masih adanya aktivitas penebangan liar pasca diterapkannya Moratorium Logging sejak tahun 2007 lalu. Meski demikian ia meyakinkan bahwa saat ini tidak ada lagi penebangan secara besar-besaran. ”Yang ada hanya pencurian kayu oleh pengusaha kecil-kecilan untuk bahan baku perabotan.”

“Tetaplah ada (penebangan liar), moratorium logging bukan ditujukan kepada illegal logging, illegal logging dari sononya juga illegal. Moratorium Logging saya tujukan kepada legal logging. Buktinya sekarang apa, HPH nggak ada yang berani nebang kan. Penebangan besar-besaran nggak ada kan. Yang ada pencurian kayu oleh masyarakat dan juga oleh pengusaha kecil-kecilan untuk perabot,” kata Gubernur Irwandi menjawab pers saat berkunjung ke Dayah Darul Islah, Gampong Ulee Blang, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Minggu (25/4).

Disinggung terkait gagasan kalangan akademisi agar Pemerintah Aceh melakukan ‘revolusi hijau’ untuk menyelamatkan hutan Aceh, Gubernur Irwandi menyatakan bahwa hal itu justru sedang berjalan. Soal tidak efektifnya pelaksanaan di lapangan, Irwandi bilang, “Oh, kalian melihat gelas yang setengah kosong, saya melihat gelas yang setengah terisi. Kita isi lagi sampai penuh”.

Peladangan Liar

Gubernur Irwandi mengatakan, munculnya konflik satwa dan manusia seperti gangguan gajah yang semakin marak di kawasan Aceh Utara dan Aceh Timur, akibat ulah manusia yang merambah ke tempat gajah. “Makanya saya himbau, janganlah mendirikan peladangan liar, tanpa koordinasi. Dulu memang ada dikoordinasi, tapi pemilihan tempat tidak memperhatikan kehidupan makhluk lain,” kata Irwandi.

Menyangkut harapan masyarakat Aceh Utara yang meminta agar dibuka kembali pusat pelatihan gajah di Mbang, Kecamatan Geureudong Pase, Gubernur Irwandi mendukung hal itu. Tapi soal anggaran untuk kegiatan tersebut, kata dia, tetap bergantung dari pemerintah pusat. Karena Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) masih organ pemerintah pusat.

“Jadi, tergantung pemerintah pusat kapan mau mengembalikan BKSDA ke tangan Pemerintah Aceh. Kalaupun diserakan ke Pemerintah Aceh, tapi kita mempertahankan supaya itu tetap didanai oleh pusat, Aceh hanya bisa membantu, tidak bisa membiayai,” kata Irwandi.

‘Revolusi Hijau’

Sebelumnya, akademisi Universitas Malikussaleh Taufik Abdullah menilai, perambahan dan pengelolaan hutan oleh sektor swasta selama ini cendrung merugikan kelestarian hutan Aceh. “Siapa yang berikan izin dan kontrol mereka? Lihat saja pembukaan lahan, penyerobotan lahan, penebangan kayu, eksplorasi tambang, sampai munculnya konflik satwa dan manusia semakin marak,” kata Taufik, beberapa waktu lalu.

Taufik Abdullah menegaskan, perlu ditinjau kembali jika ada qanun-qanun yang berkaitan dengan penyelamatan hutan dan sumber daya alam (SDA) Aceh. Kata dia, diperlukan evaluasi kritis dan komprehensif tentang kebijakan itu kalau memang benar ingin menyelamatkan ‘Aceh Green’. “Saya pikir jika ini serius, gubernur mesti deklarasikan ‘revolusi hijau’, sehingga hutan Aceh benar menyumbangkan investasi H2O untuk masyarakat dunia,” kata dosen Fisip Unimal ini.(*/ha/nsy)

Sumber :
www.http://seputaraceh.com/2010/04/27/gubernur-tak-ada-lagi-penebangan-besar-besaran.

Kemenangan Demokrat di Aceh Dikondisikan Eks GAM


Home : Pase : Lhokseumawe : Saturday, 11 April 2009 03:29

Lhokseumawe | Harian Aceh--Partai Demokrat yang tidak melakukan kampanye terbuka di Aceh, khususnya kawasan pesisir timur, ternyata mendapat dukungan yang luar biasa dari rakyat Aceh. Hasil penghitungan sementara, Demokrat menempati urutan kedua setelah Partai Aceh dalam perolehan suara Pemilu Legislatif 2009 untuk tingkat lokal. Sedangkan untuk tingkat pusat, rakyat Aceh mengantarkan Demokrat sebagai jawara.

Fenomena tersebut amat mencengangkan banyak pihak. Pasalnya, antara prediksi dengan hasil yang tampak sekarang amat bertolak belakang. Lantas, mengapa rakyat Aceh memilih Demokrat? Ada upaya pengkondisian oleh kalangan eks kombatan bahwa Partai Demokrat harus mereka dukung setelah Partai Aceh. Jadi kenapa harus Demokrat, ini satu kondisi yang diciptakan meskipun tidak secara mutlak. Karena sosok SBY punya peranan penting untuk GAM dan rakyat Aceh, kata Taufik Abdullah, pengamat politik dari Fisip Unimal Lhokseumawe saat dihubungi, tadi malam.

Menurut Taufik, rakyat Aceh sudah amat merasakan nikmatnya perdamaian ini. Dan perdamaian itu, kata dia, dalam anggapan rakyat Aceh seolah-olah berada di tangan SBY, Presiden RI yang juga Ketua Dewan Penasehat Partai Demokrat. Jadi, bisa juga ini semacam ucapan "terima kasih" rakyat Aceh kepada SBY dan pemerintah pusat. Karena rakyat Aceh tidak melihat SBY itu orang Jawa, siapa pun yang membantu orang Aceh akan sangat dihargai. Sebaliknya, siapa pun yang menzalimi orang Aceh akan dilawan, katanya.

Rakyat Aceh memilih Demokrat, lanjut Taufik Abdullah, juga sebagai bentuk penolakan terhadap parnas lain yang dinilai tidak memihak kepada rakyat Aceh. Demokrat sudah menunjukkan kerja nyata untuk rakyat Aceh melalui sosok SBY. Sementara parnas lain tidak dianggap seperti Demokrat. Misalnya, PPP yang sebenarnya cukup mengakar di Aceh, tapi tidak mendapat dukungan dari rakyat, karena parnas selain PD dianggap tidak punya kredibilitas sehingga ditinggalkan oleh rakyat Aceh, kata dosen ilmu politik di Fisip Unimal ini.

Anggota KIP Aceh Utara, Ayi Jufridar membenarkan bahwa hasil penghitungan sementara perolehan suara pemilu legislatif 2009 di Aceh Utara dimenangkan oleh Demokrat pada posisi dua teratas setelah Partai Aceh yang menang telak untuk tingkat lokal. Ayi Jufridar menilai bahwa kenyataan tersebut merupakan fenomena menarik. Pasalnya, di beberapa kawasan pedalaman Aceh Utara, yang menang justru Demokrat.

Baik Ayi Jufridar maupun sejumlah anggota PPK di Aceh Utara tidak menampik dugaan bahwa kemenangan Partai Demokrat merupakan buah dari hasil bekerjanya mesin politik eks kombatan. Hal itu sesuai dengan kenyataan yang mengemuka di kalangan masyarakat.

M Habibi, salah seorang mahasiswa di Aceh Utara menilai bahwa tanpa dukungan mesin politik eks kombatan, tidak mungkin Demokrat menang di Aceh. Pasalnya, kata dia, ada sejumlah daerah pedalaman seperti di Aceh Utara yang tidak pernah didatangi pengurus maupun kader Demokrat. Dan, Demokrat pun tidak membuat kampanye terbuka, kenapa rakyat tahu Demokrat, ya, pasti ada yang bilang kepada mereka bahwa Demokrat itu SBY. Kalau SBY, rata-rata warga Aceh sudah tahu betul bahwa itu orang yang punya peranan penting dalam perdamaian Aceh. Rakyat Aceh cinta damai makanya pilih SBY atau Demokrat, katanya.(irs)

Sumber :
http://www1.harian-aceh.com/pase/lhokseumawe/2299-kemenangan-demokrat-di-aceh-dikondisikan-eks-gam.html